Rabu, 28 April 2010

PERHATIAN YANG MENYEMBUHKAN

Ini sebuah cerita dari seorang ayah, yang belajar pengalaman peduli kepada orang lain, dari anak gadisnya yang masih kecil.
Sejak tadi aku bingung melihat anak perempuanku yang masih berumur tujuh tahun mondar-mandir di depan pintu sambil sesekali memandang ke jalan raya dan kembali melihat jam dinding. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang.
“Dia tidak mungkin berdusta, ayah,” kata anakku.
“Siapa yang kamu maksudkan, Nak?” tanyaku kepadanya.
“Aku telah meminjamkan uangku kepada lelaki berjenggot itu dan ia telah berjanji akan mengembalikannya sore ini.”
Aku semakin mendesaknya,”laki-laki pemabuk itu, maksudmu?”
“Benar, Ayah.”
Aku memarahi anakku habis-habisan karena berhubungan dengan laki-laki tua pemabuk yang tidak punya pekerjaan. Tetapi dengan polos anakku menjawab,”Tapi Ayah, aku percaya kepadanya, karena aku melihat sinar kebaikan di matanya.”
Memang banyak orang menjuluki anakku sebagai malaikat kecil, karena kebaikan dan kasihnya yang sangat besar kepada orang lain.
Keesokan harinya seorang wanita dari rumah sakit datang ke rumah kami dan memperkenalkan dirinya sebagai perawat dari salah satu rumah sakit di kota kami.
Ia bertanya,”Apakah di sini rumah Ellena?”
Sebelum sempat menjawab, anak perempuanku menyela,”Betul, aku Ellena.”
Perawat itu mengambil sebuah amplop coklat dari tasnya dan memberikannya kepada anakku sambil berkata,”Ini dari Mariano, laki-laki berjenggot yang sejak kemarin dirawat di rumah sakit karena serangan jantung saat ia sedang dalam perjalanan ke rumahmu.”
Anakku Ellena meyakinkan kepadaku bahwa laki-laki berjenggot itu dapat dipercaya walaupun ia dikenal sebagai sosok laki-laki pemabuk dan seringkali meresahkan orang lain. Perawat itu juga menyampaikan pesan bahwa Mariano ingin sekali bertemu dengan Ellena. Maka aku pun memutuskan untuk mengajak anakku ke rumah sakit.
Ketika kami menjumpainya, laki-laki berjenggot itu menangis sambil berkata,”Terimakasih malaikat kecilku. Satu-satunya orang yang mempercayaiku di dunia ini hanya engkau, Nak.” Sambil terisak-isak laki-laki itu bercerita bagaimana ia terus bermabuk-mabukan selama ini, karena merasa putus asa dan tertolak. Tetapi pertemuannnya dengan Ellena kecil telah mengubah segalanya. “Aku mau menjadi orang baik-baik dan bekerja kembali,”katanya.
Aku harus mengakui bahwa hari ini anakku, Ellena telah mengajariku satu hal yang sangat berharga tentang bagaimana menyembuhkan orang melalui kasih sayang dan kepercayaan yang tulus kepada mereka. Jangan menyebabkan orang lain semakin jahat dengan kecurigaan dan ketidakpedulian kita kepada mereka. Kita tidak mau tahu dengan apa yang sedang mereka hadapi.
Mari kita belajar menyembuhkan sesama dengan kasih, kepercayaan dan kepedulian kita terhadap mereka. Kasih berarti mempercayai, kasih berarti menutupi segala sesuatu, kasih berarti menerima. Memang kita harus hati-hati, tetapi bukan berarti kita tidak bisa mempercayai orang lain. Dan sering kepercayaan yang kita berikan kepada orang lain, itu memulihkan mereka, menyembuhkan mereka.
Banyak anak-anak yang dipercaya di sekolah sebagai pengurus kelas di sekolah, mereka menjadi rajin, mereka bekerja di sekolah, mereka membersihkan ruangan kelasnya, padahal di rumah mereka malas, karena di rumah orang tua mereka tidak mempercayai mereka. Di sekolah mereka dipercaya dan mereka berubah karena dipercaya.
Berikan perhatian, berikan rasa peduli kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, apalagi kepada mereka yang butuh penyembuhan atas luka-luka dalam hati mereka karena kekecewan dan perasaan tertolak, perasaan tidak dimiliki dan perasaan terasing.

Tetap Mencinta, Tetap Peduli

0 komentar:

Posting Komentar

 

©2009Sumber Info | by TNB